Ayahku Kejam…

papa jahatTak nampak raut sedih di wajah Y (14). Remaja pria yang kini masih duduk di kelas VI Sekolah Dasar ini larut dalam canda bersama tiga temannya: D, R dan I. Di rumah seorang guru – yang juga orangtua D – kini Y minta perlindungan dari perlakuan kasar ayah kandungnya. “Sudah tiga minggu saya tinggal di sini. Saya takut pulang,” kata Y, ketika ditemui Jumat (5/4) siang.
Mengenakan kaos hitam ‘Welcome To Batam Island’ dipadu celana jins selutut, penampilan Y tak berbeda dengan tiga temannya tadi. Di rumah milik Nn – seorang guru – itulah, Y kini merasa menemukan dirinya sebagai seorang anak. “Bapak sering mukul,” sebut Y.
Bahkan, perlakuan kasar sang ayah kandung, juga kerap berlaku pada saudara kembar Y. “Kembaran saya itu masih betah tinggal sama bapak,” katanya. Sebelum kabur dari rumah, Y mengaku juga pernah dicekik oleh BS, ayah kandungnya itu. Perlakuan serupa, kata dia, juga dialami kembarannya.
Menceritakan penyiksaan yang dialaminya, mata Y mulai berkaca-kaca. Suaranya serak. “Pokoknya saya sudah betah di sini. Saya tak mau pulang,” kata dia.
Padahal, rumah orangtuanya itu hanya berjarak sepuluh meter, persis berada di sebelah rumah Bu Guru Nn, tempatnya kini minta suaka. Y merasa, di rumah orangtuanya sudah tidak menemukan kedamaiannya. Apalagi, sang ayah sudah menikah lagi dengan perempuan lain. “Ibu saya tak tahu kini di mana,” kata Y.
Dari pernikahan ayahnya dengan ibu tirinya itu, Y kini sudah memiliki seoranga adik yang masih bayi. Y menyebut, emosi ayahnya sering menyulut lantaran kini sudah tak bekerja lagi. “Bapak sering sakit-sakitan. Katanya kena santet. Yang kerja ibu tiri,” kata Y.
Di rumah, kata Y, ia selalu mengerjakan pekerjaan yang bisa ia lakukan. “Tapi selalu saja kena marah,” kata dia. Makian dan tamparan, sebut dia, tak bisa dielakan jika ia pulang bermain dari luar. “Padahal, saya sudah izin,” ucap dia.
Akibatnya, Y memilih diam di rumah. “Tapi kalau saya di rumah, ibu tiri saya yang marah-marah, dibilangnya saya kayak anak cewek,” ujarnya.
Hingga akhirnya, Y memutuskan untuk hengkang dari rumahnya itu sejak tiga pekan silam. Waktu itu, sebut Y, ia ikut menghabiskan liburan hari Minggu bersama keluarga Nn. Tapi pulangnya, ia tak dibukakan pintu. Di malam itulah, sebut Y, baju dan buku sekolahnya dibakar. Tak hanya itu, Y mengaku mendapat ancaman akan dibunuh ayahnya itu. “Saya takut ketemu sama bapak,” kata dia.
Kendati semua perlengkapan sekolahnya dibakar, Y tetap semangat sekolah meminjam baju sekolah teman-temannya.

Nn: Jangan Sampai Putus Sekolah
Nn, ibu dua anak yang kini menampung Y, mengaku tidak keberatan membiayai semua kebutuhan Y. “Jangan sampai dia putus sekolah,” kata Nn.
Tapi, ia merasa tetap tidak nyaman lantaran orangtua Y tinggal bersebelahan dengan rumahnya di kawasan Tangjunguma. Diutarakan Nn, ayah kandung Y juga tidak punya itikad baik untuk menjemput sang anak. Nn mengaku juga ingin mendatangi langsung orangtua Y. Hanya saja, Nn menilai, orangtua Y terkesan tidak terbuka. “Kami jadi serba salah,” kata dia.
Tak ada pilihan lain, Nn mengaku ingin mengadukan peristiwa tersebut pada perangkat RT. Langkah selanjutnya, pihak Komisi Pengawasan dan Perlindungan Anak Daerah (KPPAD) Kepri pun dihubungi. “Saya ingin jalan terbaik,” sebut Nn di hadapan Ery Syahrial, Komisioner KPPAD Kepri.
“Sebaiknya seorang anak memang harus diasuh oleh orangtua kandungnya,” begitu kata Ery. Hanya saja, melihat dan mempelajari pengaduan Y, Ery merasa, tak salah jika Y mencari perlindungan pada orang lain yang dianggapnya bisa memberi kenyamanan. Apalagi, kata Ery, Y kini lebih memilih tinggal bersama dengan keluarga Nn, yang kebetulan juga punya anak lelaki seusia Y.
Dijelaskan Ery, kalau alasan dipukulnya Y hanya lantaran bermain, orangtua tetap dianggap salah. “Anak punya hak untuk bermain,” kata Ery.
Jumat siang, setelah mendatangi Y di rumah Nn, Ery berniat melakukan mediasi langsung dengan BS-ayah kandung Y. Hanya saja, siang itu, BS sedang tidak di rumah lantaran sedang mengantarkan istri keduanya ke tempat kerja. “Saya ingin tinggal bersama ibu (Nn) saja,” kata Y dengan nada keberatan ketika diajak pulang. (rozi juhendra)

Print Friendly
Pos Metro Batam adalah sebuah surat kabar harian yang terbit di Kepulauan Riau, Indonesia. Surat kabar ini termasuk dalam grup Jawa Pos. Kantor pusatnya terletak di kota Batam. Koran ini pertama kali terbit tahun 2000.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>