Posmetro Batam Edisi:
Oleh
Fokus Berita:

Cerita Panti Pijat Plus-plus: Short Time atau Booking, Bisa Kok!



PI Massage

Penelusuran tentang layanan seks panti pijat plus plus ini pun terus berlanjut. Kali ini di kawasan Jodoh. Di China Town, tak jauh dari DC Mall. Di deretan sejumlah panti pijat di komplek ruko itu, berderet sejumlah panti pijat. POSMETRO memilih panti   secara acak. “Yang lampunya sedikit remang,” kata seorang teman. PI Massage namanya.

Langkah kaki pun dipercepat karena rasa penasaran. Setelah melangkah masuk ke dalam panti, tampak tak beda  jauh dengan panti pijat yang menyediakan layanan seks lainnya. Di PI Massage ini, juga tidak menyediakan jasa pijat. Hanya jasa seks komersial yang disediakan.

Lokasinya menghadap jalan raya. Di pintu sudah bisa ditebak, ini tidak hanya melayani pijat. Pintunya lebih menyerupai pintu masuk bar. Tak ada gambar kaki, seperti tempat pijat pada umumnya. Yang ada adalah gambar botol minuman beralkohol.

Si pemilik langsung menawarkan layanan seks. Tarifnya beragam. Mulai dari Rp150 ribu hingga Rp250 ribu per  jam. Besarnya tarif tergantung kemolekan gadis pemijatnya. Mereka yang cantik, berkulit mulus, dihargai lebih mahal.
Istimewanya, di PI, tamu yang datang ditemui langsung oleh seorang mami. Badannya tambun, kulitnya putih, alisnya dibentuk menggunakan pensil alis. Wanita keturunan Tionghoa ini sangat lihai menawarkan ayam-ayamnya.

Tarif yang ditawarkannya lebih murah di banding tempat lain. Di PI untuk jasa short time, sang mami membandrol ‘ayam’nya paling murah Rp150 ribu. Untuk boking yang paling mahal Rp800 ribu.

Mau Short Time atau Mau Booking
Meski tertulis tempat pijat, PI Massages yang  terletak di Blok P No12 ini, tidak menyediakan jasa pijat sebagaimana peruntukkannya. Bahkan, di PI Massages, tarif yang dibandrol sang mami untuk jasa short time (ngeseks dalam waktu singkat)  lebih murah dari tarif “ayam-ayam” di panti pijat plus-plus yang menjamur di Batam. “Paling murah short time,  tarifnya Rp150 ribu,” kata seorang mami keturunan yang berbadan tambun pada koran ini.

Begitu anda masuk, tidak seperti panti pijat pada umumnya yang memiliki resepsionis, di panti pijat yang menggelar praktik prostitusi terselubung ini  tidak ada resepsionis yang menawarkan dan menerangkan sejumlah paket pijat yang disediakan. Tapi, hanya ada beberapa sofa dan meja yang diduduki beberapa pria yang menjaga pintu depan panti. Begitu masuk pintu utama, anda harus masuk lagi ke sebuah ruangan tempat para “ayam-ayam” dipajang. Di ruangan yang cukup besar dan di dindingnya ditempeli kaca cermin serta lampu remang-remang, dan hiasan kertas berwarna-warni itu, sudah duduk dengan senyum menggoda para perempuan pramunikmat.

Sang mami yang alisnya dicukur habis dan dibentuk oleh pinsil alis itu, langsung datang mendekat. “Mau yang mana? Short time atau boking?” kata sang mami yang malam itu mengenakan setelah coklat. Perempuan berkacamata ini dengan luwes menjelaskan tarif ayam-ayamnya. Dari Rp150 ribu hingga Rp400 ribu untuk sekali short time. Sedangkan untuk boking sang mami membandrol harga ayam-ayamnya dari Rp500 ribu hingga Rp800 ribu.

“Yang itu pengalaman sekali,” kata sang mami sambil menunjuk seorang wanita yang berperawakan sedang, berkulit putih dan bermata sipit serta berambut panjang, yang malam itu mengenakan setelan merah.

Untuk berkencan short time dengan ‘ayam’nya, sang mami menyediakan tempat di lantai atas pantinya. Tentu anda harus merogoh kocek lagi untuk biaya kamar yang besarnya antara Rp50 ribu hingga Rp100 ribu. Sedangkan untuk jasa boking, anda harus mencari hotel sendiri.

Biasanya, panti pijat yang menggelar praktek prostitusi ini buka hingga larut malam.  Mobil-mobil pribadi atau taksi yang mengantarkan pria hidung belang, datang dan pergi di panti pijat seperti ini. Bahkan, untuk membuat panti pijatnya ramai dikunjungi pria hidung belang, panti pijat biasanya akan memberikan persenan bagi supir pengantar pria hidung belang jika melakukan transaksi. Kabarnya, setiap transaksi, supir pengantar pria hidung belang mendapat persenan sebesar Rp70 ribu bahkan lebih.

Malam itu, setelah sang mami menjelaskan tarif dan kelebihan ayam-ayamnya, Posmetro memilih meninggalkan panti pijat. Alasan yang diberikan sudah tentu karena tidak ada yang cocok. Namun, sang mami tetap berusaha merayu agar mau mengencani ‘ayam’nya malam itu. “Ini cuaca dingin loh. Paling enak sama yang itu. Tak usah lama-lama tak usah banyak pilihlah. Tak nyesal punya loh,” katanya sambil terus memepet koran ini hingga ke pintu keluar.

Siang kemarin, koran ini kembali mendatangi PI Massages untuk melihat aktifitas panti ini di siang hari. Tak beda jauh dengan malam hari, di siang hari  juga cukup banyak pria hidung belang hilir mudik. Para ayam yang sudah berdandan menor pun terlihat keluar masuk ke dalam panti. Bedanya, di siang hari penampilan para ayam  di panti ini tidak seseksi malam hari. Jika malam hari mereka menggunakan gaun atau rok mini dan baju yang menonjolkan belahan dada, di siang hari mereka mengenakan pakaian yang tidak terlalu mencolok.(tim)

Kalau Diboking ke Hotel Tarifnya Rp750 Ribu
Pengakuan seorang yang pernah pijat di PI Massage, pemijat di tempat ini akan melakukan pijatan dengan cara telanjang bulat. Tarif mereka antara Rp150 ribu sampai yang termahal Rp250 ribu.

“Biasanya ditawari cewek yang murah dulu, kalau tidak tertarik baru dikasih yang lebih cantik,” ujar seorang pelanggan. Cewek-cewek yang dipajang ini biasanya mengenakan celana panjang plus t-shirt.  Penerangan di dalam juga hanya remang-remang.

“Yang pernah memijat saya, usianya dua tigaanlah,” cerita si pelanggan itu lagi. Menurutnya gadis itu sebut saja Ani. Tarif Rp200 ribu per  jam harus dibayar di muka. Tak cuma itu, wanita ini juga terlebih dahulu minta dibelikan rokok dan minuman. “Sebelum naik biasanya  minta dibelikan rokok atau minumlah,” katanya melanjutkan cerita.

Di dalam panti, sekitar 20 kamar berderet di kanan kiri. Rata-rata berukuran 3 x 2 meter. Di depan kamar terpampang tulisan besar-besar yang menyala dihiasi lampu warna merah bertuliskan, “Dilarang Berbuat Asusila”. Ternyata setiap kamar sudah ada pemiliknya.

“Ani ini juga sudah punya kamar sendiri,” ujarnya lagi. Usai menunjukkan kamarnya, Ani menghilang. Kamarnya, selain dilengkapi tempat tidur, di dalamnya juga terdapat kamar mandi.

Tak lama kemudian, Ani muncul berganti pakaian. “Celana panjang dibalut t-shirt yang tadi dikenakannya sudah dilepas, berganti daster tipis yang panjangnya selutut. Dibalik daster tak pakai apa-apa lagi,” katanya menceritakan. Setelah beberapa menit memijat, si pemijat pun mulai tambah panas, dan akan melepas seluruh pakaiannya.

Ani juga bisa melayani di luar. Tarifnya Rp750 ribu. Itu diluar biaya hotel atau biaya yang lain. Dari tarif Rp750 ribu itu, Ani mendapat bagian sekitar Rp400 ribu. Sisanya menjadi milik panti pijat.(tim)

Print Friendly
Berita Terkait ""
Powered By Izulthea | Mulai online 03/02/2013 | Posmetro Batam tidak bertanggungjawab atas isi dari situs internet pihak luar