Posmetro Batam Edisi:
Oleh
Fokus Berita:

Melongok PSK Indonesia di Geylang Singapura, Utang Lunas Setelah Layani 120 Lelaki



Kawasan jalan raya Geylang Singapura, dengan puluhan lorong-lorongnya, sudah begitu dikenal oleh dunia. Termasuk warga Kepri. Geylang, tidak hanya beken sebagai tempat mencari durian enak dan warung-warung sea-food yang bertebaran di sepanjang jalan; yang menjadikan nama ini mendunia justru praktik prostitusinya. Sebagaimana masyarakat Singapura yang terkenal dengan multi etnisnya, pekerja seks komersial (PSK) di Geylang juga berangkat dari latarbelakang berbeda-beda etnis. Dan Indonesia adalah salah satunya.

foto PSK di Geylang2

================================================
Laporan Rozi Juhendra, Tulisan Pertama dari Dua Tulisan
Selanjutnya: Melongok PSK Indonesia di Geylang Singapura, Tarif PSK Indonesia Dibayar Lebih Mahal Daripada Di Batam
================================================

Linda adalah salah satu orang yang paling tahu tentang PSK Indonesia di Geylang. Bagaimana tidak, perempuan kelahiran 25 Mei 1968 ini adalah pemasok PSK Indonesia ke Singapura. Bunda Cece – demikian Linda beken disapa – sudah lama malang-melintang di dunia jual-beli wanita.

Tapi, untuk bertemu langsung dengan Bunda Cece ini tidaklah mudah. Banyak mata rantai yang terputus. Tapi, Kepolisian Daerah Kepulaun Riau berhasil menghentikan sepakterjang aktifitas jaringan Bunda Cece dalam memasok sejumlah perempuan ke negeri tetangga. Sejak 3 Februari lalu, Bunda Cece terpaksa meringkuk di penjara. Bermaksud ingin menelusuri modus aktifitas ‘penyelundupan’ PSK ke Geylang, POSMETRO mencoba menemui Bunda Cece di dalam penjara. Namun, tak mudah menemui wanita satu ini. Walau kini ruang gerak perempuan berkulit putih itu terbatas, ia tak sembarangan menerima tamu. Apalagi untuk berhadapan dengan seorang wartawan, Bunda Cece tetap memilih untuk menghindar.

Atas bantuan petugas tahanan, Rabu (22/5), POSMETRO akhirnya berhasil menemui Bunda Cece dalam sel penjara tahanan Kejaksaan Negeri Batam. Walau berbaur dengan sejumlah tahanan, tapi penampilan Bunda Cece jauh lebih mencolok. Mengenakan kemeja putih dengan lengan menutupi sikutnya, Bunda Cece terlihat santai. Berhias seadanya, Bunda Cece tak lupa melukis alisnya dengan alis pinsil. Hasil riasan sendiri itu, setidaknya bisa menyamarkan usia Bunda Cece. “Ya, beginilah, sehat,” jawab Bunda Cece ketika ditanya kondisi kesehatannya. Mengawali perbincangan dengan POSMETRO, Bunda Cece terkesan sangat menutup diri.

Selama meringkuk dalam penjara, seperti halnya dengan tahanan lainnya, Bunda Cece berusaha untuk mengikuti semua kegiatan yang diberlakukan dalam penjara. Bahkan, tak jarang Bunda Cece juga menjadi pendengar yang baik saat teman sesama tahanan lainnya ingin berkeluh-kesah.

Saat POSMETRO menggali tentang tuduhan yang dialamatkan padanya sebagai mami pemasok perempuan pekerja seks ke negeri jiran, Bunda Cece berusaha menampik. Tapi ia tak bisa mengelak saat POSMETRO menyebut seorang perempuan 17 tahun berinisial DP – yang sempat dipekerjakan sebagai pelacur di lorong 12 Geylang Singapura. “Dia (DP) yang datang minta tolong pada saya,” aku Bunda Cece.

Saat datang itu, Bunda Cece mengaku tak mengetahui kalau usia DP belum 18 tahun, “Ngakunya sama saya, dia sudah berumur 20 tahun,” tambahnya lagi. Bahkan, kata Bunda Cece, belakangan baru terungkap, DP juga sudah pernah punya paspor dengan memaslukan umur menjadi 24 tahun.

Beberapa bulan lalu, sebut Bunda Cece, DP datang bersama seorang pria dan minta diberangkatkan ke Singapura. Kepada BUnda Cece, DP, kala itu mengaku siap bekerja sebagai wanita penghibur. “Ya, bagaimana lagi, dia (DP) memang cewek malam,” sebut Bunda Cece. Ia mengaku hanya membantu membuatkan paspor. “Selebihnya, dia yang memilih,” tambah Bunda Cece.

Karena DP itulah akhirnya Bunda Cece tersandung masalah hingga mendekam di penjara. Kini ia dijerat dengan pasal 4 dan 6 UU RI Nomor 2 tahun 2007 tentang pemberantasan tindak pidana perdagangan orang. Pasal lain yang menjerat Bunda Cece yakni, pasal 88 UU RI Nomor 23 tahun 2002 Tentang Perlindungan Anak.


Utang Lunas Setelah Layani 120 Lelaki

Bunda Cece punya hak untuk mengelak dari tuduhan sebagai mami ayam. Tapi, informasi yang dihimpun POSMETRO, setiap satu orang yang berhasil dikirim Bunda Cece ke Geylang, perempuan ini mendapat komisi Rp800 ribu dari Aguan, seorang pria yang disebut sebagai papi ayam di Geylang. Tuduhan itu juga sudah diperkuat dengan dakwaan jaksa.

Berawal sekitar Agustus 2012 lalu, DP (17), merasa putus asa mengadu nasib di Kota Batam. Dari dua orang kenalannya, Citra dan Ria, DP mendapatkan informasi bahwa ada seorang perempuan yang disebut-sebut bisa memasukan orang ke Singapura. Informasi dari mulut ke mulut itu langsung dicerna DP.

Selanjutnya, melalui seorang perantara bernama Reval, DP diajak untuk bertemu langsung dengan Bunda Cece di Hotel Pelita Terang.

Tentu saja, kala itu, DP sudah dicekoki berbagai komitmen. “Pokoknya, apa yang ditanya Bunda Cece, kamu jawab ‘iya’,” begitu Reval mendoktrin DP.

Alasannya, tentu tak lain, agar Reval mendapat uang komisi dari Bunda Cece.
Menurut pengakuan DP, kala itu, Bunda Cece mempertanyakan kembali tentang keinginannya masuk Singapura, “Apakah kamu mau masuk Singapura? Ya udah, boleh saja, aku foto sekarang. Nanti kalau paspor sudah selesai, dikabari.”

Selain memiliki jaringan yang rapi-termasuk biro jasa yang bisa memuluskan pembuatan paspor dengan oknum petugas Imigrasi Batam, ada ritual khusus sebelum DP diberangkatkan ke Singapura.  Mandi kembang, ya, ritual ini harus dilakoni agar perempuan penjaja seks ini tidak terkena sial di negeri orang. Di kawasan Taman Raya, bersama seorang pria yang dikenal dengan sebutan ‘Pak De’, ritual mandi kembang itu digelar. Hanya saja, dengan alasan orangtuanya sedang sakit, DP mengurungkan niatnya untuk diberangkatkan ke Singapura.

Walau sempat mengurungkan niatnya untuk diberangkatkan ke Singapura, namun lantaran himpitan ekonomi, DP akhirnya kembali menemui Bunda Cece, Januari lalu. Lagi-lagi, untuk menemui Bunda Cece, DP kembali harus diatar oleh seorang perantara. Kali itu, Bunda Cece tak lagi ingin dikecewakan. Setelah yakin tekad DP sudah bulat untuk melacur ke negeri seberang, Bunda Cece pun menyebut kalau DP sudah berhutang sebesar Rp6 juta. “Paspornya sebenarnya sudah selesai lima bulan lalu, jadi kapan mau berangkat? Utang kamu sudah banyak, uang itu untuk nembak paspornya,” begitu kata Bunda Cece pada DP.

Padahal tarif pembuatan paspor normal sebesar Rp275 ribu. Jika mau cepat dan tak repot, dengan uang Rp1 juta pun banyak orang yang mau menguruskan pembuatan paspor.

Setelah memastikan hari keberangkatan, Bunda Cece punya trik agar keberangkatan DP tidak dicurigai oleh petugas imigrasi Indonesia maupun Singapura. Ada trik khusus yang diterapkan Bunda Cece. “Korban disuruh pakai jilbab. Tak perlu bawa baju, cukup bawa badan,” sebut sumber POSMETRO menceritakan modus pengiriman pekerja seks itu.

Agar ‘anak ayamnya’ tidak kabur, Bunda Cece juga tak gegabah. Paspor DP ditahan. Hingga di hari keberangkatan, DP diantar oleh seorang perempuan dan seorang pria ke Pelabuhan Internasional Batamcentre. Setibanya di pelabuhan, DP mengaku ditelpon Bunda Cece. DP diminta untuk bersikap santai. Melalui pembicaraan via hape itu, Bunda Cece menyebut akan datang seorang perempuan dengan ciri-ciri gemuk, memakai topi. Perempuan itu, yang disebut Bunda Cece akan memberikan paspor dan uang tunjuk pada DP sekaligus mengantarkan DP ke negeri seberang hingga sampai ke tangan papi ayam.

Agar tidak dicurigai petugas imigrasi, setiap orang yang akan menyebrang ke Singapura, terkadang harus memperlihatkan isi domptenya pada petugas. Hal itu menandakan kalau orang tersebut benar-benar ingin melancong, bukan bermaksud mencari pekerjaan di Singapura. Begitu juga halnya dengan DP, ia dibekali uang sebesar 700 Dolar Singapura. DP juga harus menghapal alamat wisata yang akan dituju jika sewaktu-waktu petugas Imigrasi Singapura menanyakan tujuannya.

Hanya saja, setelah melewati petugas imigrasi di pelabuhan Batamcentre, paspor DP kembali diambil oleh perempuan suruhan Bunda Cece tadi.

Selanjutnya, tinggal beres, DP diseberangkan ke Singapura. Setelah mengarungi lautan yang tak memakan waktu satu jam, DP diserahkan pada Aguan alias Papi Ayam yang sudah menunggu di Singapura.

Di malam kedatangannya di Singapura itu, DP langsung disuruh beraktifitas lantaran sudah ‘terikat’ hutang. Hutang itu dianggap lunas jika DP sudah melayni 120 orang pria hidung belang.

Setiap hari, DP mengaku dipekerjakan dari pukul 09.00 hingga 18.30 waktu setempat. Selanjutnya, DP kembali menjajakan diri dari pukul 22.00 hingga 02.00 waktu Singapura.

Dengan cara berdiri di lorong, jika ada tamu yang ingin memboking, tubuh DP dihargai 30 Dolar Singapura untuk waktu 30 menit. Uang itu harus dipotong 10 dolar Singapura untuk biaya makan. Baru sepuluh hari bekerja, DP mencacat sudah 71 laki-laki hidung belang yang sudah mencicipi tubuhnya. (chi)

Print Friendly
Install Aplikasi Posmetro Android di Gadgetmu
Android app on Google Play
Berita Terkait ""
Powered By Izulthea | Mulai online 03/02/2013 | Posmetro Batam tidak bertanggungjawab atas isi dari situs internet pihak luar