/>
Posmetro Batam Edisi:
Oleh
Fokus Berita:

Pasangan Mesum Diarak Warga Di Perum Mukakuning Indah



Pasangan mesum (wajah ditutupi karton), saat diarak warga.

Pasangan mesum (wajah ditutupi karton), saat diarak warga.

Jarum jam baru saja menunjuk di angka 8 malam. Ketika Minggu (12/5) malam itu, Roni Asmara dan empat temannya asyik bermain domino batu. Mereka bermain di gang perumahan di RW4/RT 4, Perumahan Mukakuning Indah I, berjarak sekitar dua rumah dari sebuah rumah yang dikoskan.
Saat itu, sebuah kelebatan bayangan manusia sempat tertangkap mata Roni. Persis  di depan kos-kosan, sebuah kendaraan roda dua berhenti dan diparkir. Tanpa basa-basa, joki di atasnya (seorang perempuan muda) turun dan langsung masuk ke kosan. Untuk kemudian segera menuju ke lantai dua dan hilang ke salah satu kamar kos.
Situasi ini tentu membuat Roni, anggota Tim Pemberantasan Penyakit Masyarakat (TP2M) Genta I curiga. Beberapa laporan sudah sering didengarnya tentang perangai pasangan mesum yang ada di kosan itu. Namun dia tak mau gegabah. Ia kemudian mengutus seorang pemuda, Riyan, untuk mengawasi rumah kos. Riyanpun ligat mendekati kosan yang terdiri dari dua lantai: lantai I ada 3 kamar, lantai II ada 4 kamar.
Saat itu kebetulan nyaris semua penghuni kamar kosan yang khusus cowok itu kompakan menutup pintu. Ada di antaranya yang memang sedang tidak ada di tempat. Riyan, yang sudah berada di depan kosan, hanya perlu melongok pintu salah satu kamar yang sudah dicurigai dengan melihatnya dari lorong tangga. Kamar seorang pria muda yang diketahui baru saja sebulan pindah ke sana. Setelah memastikan ada yang janggal, Riyan kemudian memberi kode kepada Roni dan kawannya. “Sudah masuk om, kamarnya ditutup.”
Tanpa dikomando lagi, Roni segera menghubungi beberapa pengurus TP2M melalui saluran HP. Beberapa pengurus TP2M; Karyoso, Mulyanto dan Selamet pun tiba di lokasi. Tidak banyak orang yang berhasil dikumpulkan. Namun tim inti yang sudah datang saat itu segera bertindak.
Sekali lagi mereka mengatur strategi tidak ingin terburu-buru. Tiba di depan kosan, satu orang mengecek lagi ke kamar yang terletak di lantai 2. Menapaki anak tangga dan tiba di depan kamar, warga mendengar ada suara aneh. Di sekitar kamar ada bagian tembok yang bisa digunakan untuk pijakan.
Didukung penerangan di lantai 2, warga langsung melongokkan kepala, mencoba melihat apa yang terjadi di kamar tersebut melalui ventilasi. “Mereka main,” jeritan kecil warga memberitahukan kalau di dalam kamar ada seorang wanita dan pria yang berada dalam posisi tidak wajar. “Yang cewek tidak pake baju lagi, yang cowok juga,” jelas Roni. Pemandangan itu jelas terlihat lantaran kamar diterangi lampu.
Roni dan Mulyono berinisiatif naik ke atas, dan mengetuk pintu kamar tersebut seraya meminta penghuni untuk keluar kamar. Namun saat diketuk dan disuruh membuka pintu, warga kaget. Dari dalam dengan nada suara tinggi seorang lelaki berteriak dan menyuruh warga untuk menunggu dulu. Roni geram karena mendengar panggilannya dijawab dengan keras. Di mencoba melongok ke dalam dan melihat si cewek mengenakan kaus tanpa memakai beha dengan buru-buru. Si cowok dilihatnya menggunakan kaus sembari menelepon seseorang.

Beralasan Minta Ppijit
Suasana mendadak menjadi tegang saat warga mulai menginterogasi si cowok yang belakangan berinisial St. St mengaku tidak berbuat apa-apa di dalam kamar bersama seorang wanita muda berinisial Ei. Parahnya St malah justru marah dan tidak terima dirinya dituduh macam-macam.
Waktu terus merangkak malam. Namun St belum juga menunjukkan sifat kooperatifnya. Malah dia nekat tidak mau dan tidak terima disuruh keluar untuk dibawa ke fasum guna disidang. “Dia nantang karena merasa tidak berbuat apa-apa,” kata Roni. Karena merasa geram, Roni menggebrak pintu. Nyaris saja St dibogem warga karena menolak disidang.
Dengan suara lantang, warga lainnya memberitahukan bahwa St sudah melanggar aturan warga yang selama ini sudah disepakati. St dianggap sudah melanggar aturan dimana tidak diperkenankan membawa perempuan yang bukan muhrimnya di dalam satu kamar, apalagi kamar dikunci. “Pas ditanya apakah si cewek istri atau saudaranya, dia nggeleng, pas ditanya ngapain di dalam diapun diam,” ujar Roni.
Wargapun berinisiatif membawa pasangan ini ke fasum yang hanya berjarak sekitar 200 meter. Namun di bawah mereka kaget karena ratusan warga sudah berkumpul. Agaknya benturan tangan Roni ke pintu membuat warga menyangka telah terjadi keributan. Sorak-sorai mulai berkumandang mengiringi langkah dua insan berlainan jenis ini. Mengenakan stelan kaus hijau dan celana sepaha, Ei yang masih mengenakan alas kaki nampak terus menggandeng tangan sang arjuna. Warga yang penasaran melihat wajah wanita itu, kesulitan karena Ei terus menenggelamkan pandangannya yang tertutupi rambut panjangnya. Sementara St berjalan tanpa alas kaki.
Tidak sampai 10 menit, keduanya tiba di fasum. Sidang kilat kali ini dipimpin oleh Karyoso. Saat ditanyai, kedua pasanan ini kerap menolak memberikan jawaban sebenarnya. Bahkan saat akan dibawa ke fasum, St minta mereka disidang di kosan.
Opsi pun dilemparkan ke kedua pasangan yang diduga mesum ini; diarak atau diusir dari perumahan. Pasangan inipun meronta agar warga tidak mengaraknya. Namun karena ingin memberikan efek jera kepada pelaku dan juga pelaku lainnya, kali ini mereka mengarak pasangan ini.
Sebelum diarak, Ei sempat menyangkal tuduhan dan beralasan dia datang ke tempat kosan pacarnya karena suatu hal. “Saya habis jatuh, ke sini mau minta pijit sama pacar saya,” kata Ei kepada TP2M. (teguh joko lismanto)

Print Friendly
Berita Terkait ""
Powered By Izulthea | Mulai online 03/02/2013 | Posmetro Batam tidak bertanggungjawab atas isi dari situs internet pihak luar