Posmetro Batam Edisi:
Oleh
Fokus Berita:

Alim Artadjaja Sumana, Lebih dari 30 Tahun Teliti Mata Uang Indonesia
Temukan Arsiran Lambang PKI di Uang Rp 2.500



alimKOLEKTOR mata uang sudah jamak ditemui di masyarakat. Namun, hanya sedikit di antara mereka yang menekuni ilmu tentang mata uang. Alim Artadjaja Sumana adalah satu di antara ilmuwan langka itu.
———-
BAYU PUTRA, Jakarta
———

TEGAS dan berapi-api. Itulah gaya khas Alim Artadjaja Sumana setiap diajak berbicara mengenai numismatika atau ilmu mengenai mata uang. Keahliannya di bidang itu membuat dia berbeda dari kebanyakan kolektor mata uang. Pada usianya yang sudah lebih dari separo abad, dia terus berusaha keras mendata seluruh mata uang yang pernah ada di Indonesia.

Alim merupakan satu di antara sedikit numismatis (sebutan untuk ahli mata uang) yang disegani di Indonesia. Namanya hampir selalu ada dalam setiap seminar yang membicarakan mata uang. Meski juga termasuk kolektor uang kuno, Alim lebih dikenal karena kepakarannya itu.

Dua kali kuliah, putra asli Betawi tersebut membuat skripsi bertema mata uang. Sekilas, karya ilmiah itu tidak cocok dengan bidang yang diambilnya saat kuliah. Yang pertama bertema numismatika dan notafili yang dibuat semasa kuliah di Jurusan Bahasa Inggris Unika Atma Jaya pada 1977-1979.

Skripsi kedua yang berjudul The Trading of Old Money dibuat ketika Alim menempuh ilmu di Akademi Bahasa Inggris Niaga (ABIN) Bina Arta Jakarta pada 1981″1983. Sejak itu, dia terus mendalami spesialisasi mata uang lokal Indonesia hingga saat ini.

Ketertarikan Alim terhadap mata uang Indonesia mulai tumbuh saat masih kanak-kanak. Dia bercerita, awalnya secara tidak sengaja pada 1960 dirinya diajak ayah ke kantor. Tidak sengaja, dia melihat segepok uang kertas di laci sang ayah. Bentuk dan gambarnya unik, sehingga menarik perhatian anak-anak yang melihat. Tidak terkecuali bagi Alim kecil.

“Saya langsung pengin melihat lebih dekat,” tuturnya saat ditemui di rumahnya, kawasan Jakarta Utara, Minggu (4/8).

Rasa ingin tahu itu semakin kuat saat Alim duduk di bangku kelas 5 SD. Pada peringatan Hari Kemerdekaan di sekolah, para guru memamerkan berbagai mata uang kuno di kelas. Dari situlah Alim selalu mencari tahu segala hal yang terkait dengan mata uang.

Bahkan, saking penasarannya terhadap mata uang, saat duduk di kelas 2 SMP di Jakarta, Alim nekat membolos sekolah agar bisa melihat pameran mata uang di gedung Bank Indonesia yang tidak jauh dari sekolahnya.

“Saya memang minta izin untuk pulang duluan, tapi tidak untuk nonton pameran uang. Pokoknya, pakai segala cara agar bisa lihat pameran di BI,” kenangnya.

Tidak hanya mengamati, Alim juga mulai tertarik mengoleksi uang-uang kuno. Karena itu, setelah bekerja dan mandiri, tidak jarang dia turun ke daerah untuk berburu uang kuno. Pada era 1970-an, dia mulai aktif terlibat dalam perkumpulan kolektor mata uang, baik di Indonesia maupun luar negeri. Di situlah Alim mendapat banyak referensi terkait dengan ilmu mata uang yang digeluti.

Dari perkumpulan luar negeri, Alim jadi tahu, untuk mendalami mata uang, seseorang perlu mencari buku referensi sebelum mencari mata uangnya. “Jangan terbalik. Sebab, bisa menyulitkan saat akan mempelajari mata uang,” ujar pria 55 tahun itu.

Sembari belajar, Alim aktif mengumpulkan berbagai macam uang kuno. Tapi, fokus dia tentang uang daerah. Sebab, sejak penjajahan Belanda, beragam jenis mata uang beredar di Indonesia. Bahkan, sejumlah daerah memiliki mata uang sendiri. Mata uang daerah itulah yang dikumpulkan dan diteliti Alim.

Menurut dia, perkembangan mata uang berkaitan sangat erat dengan sejarah bangsa. Dia mencontohkan, pada masa penjajahan Belanda, pernah ada alat pembayaran jenis logam yang dinamakan uang kebun. Disebut uang kebun karena uang itu hanya beredar dan berlaku di kawasan perkebunan. Bentuknya tidak bulat, tapi segi tiga. Ada pula uang berbentuk bulat yang ditambahkan kerucut di kedua sisinya.

“Para tuan kebun yang licik membayar pekerja dengan menggunakan uang kebun agar pekerjanya tidak melarikan diri,” terang Alim.

Untuk membelanjakan upahnya, para pemilik kebun biasanya menyediakan warung yang menjual kebutuhan para pekerja selama berada di perkebunan. “Tentu saja uang itu tidak bisa digunakan di tempat lain.”

Dari penelusurannya terhadap sejumlah mata uang lokal, Alim mendapat kesimpulan bahwa Bank Indonesia sering kecolongan saat membuat uang baru karena kurang teliti. Padahal, itu sangat berbahaya. Dia mencontohkan uang kertas nominal Rp 2.500 keluaran 1957.

Sekilas, tidak ada yang aneh dengan uang kertas bergambar suasana desa pesisir dan hewan komodo itu. Namun, jika diperhatikan lebih detail, di atap salah satu rumah dalam gambar itu terdapat arsiran simbol palu arit, lambang Partai Komunis Indonesia (PKI).

Begitu pula dengan uang logam Rp 100 yang beredar saat ini. Pada lambang sila keempat Pancasila (kepala banteng), terdapat arsiran berupa garis-garis pada latar belakang lambang tersebut. Tapi, arsiran itu tidak selalu ada dalam uang logam Rp 100. Sebagian cetakan tidak menggunakan arsiran sebagai latar belakang.

“Apa maknanya, silakan ditanyakan kepada si perancangnya,” tutur pria yang berulang tahun setiap 25 Januari itu.

Penelitian Alim terhadap mata uang lokal membuat dirinya sering berurusan dengan sejumlah tokoh penting. Salah satunya Mr Sjafruddin Prawiranegara (1911-1989), menteri keuangan era pemerintahan Soekarno-Hatta yang dikenal karena kebijakannya menggunting nilai mata uang. Kebijakan itu kemudian terkenal dengan sebutan Gunting Sjafruddin.

Dia juga berurusan dengan Republik Maluku Selatan (RMS) melalui seorang perantara. Dari situ, dia mendapat uang yang berlaku dan beredar di kalangan anggota RMS. Yakni, uang gulden yang diberi stempel RMS.

Juga, uang yang beredar saat pemberontakan Permesta. Alim mengungkapkan, dirinya sempat mewawancarai Kolonel Ahmad Husein yang saat pemberontakan terjadi menjabat panglima Dewan Banteng. Sayangnya, Husein menolak membicarakan mata uang yang berlaku di kalangan para pemberontak itu.

“Dia bilang, buat apa kita ungkit masa lalu? Kami ini orang yang kalah perang,” ucapnya.

Yang paling berkesan adalah saat Alim berupaya mewawancarai tokoh yang pernah terlibat dalam kepanitiaan pembuat Oeang Repoeblik Indonesia (ORI). Bukannya mendapat penjelasan, Alim justru diusir dari kediaman sang tokoh. Meski begitu, anak ketiga di antara empat bersaudara itu tetap mendapat informasi tentang ORI dari sumber-sumber yang bisa dipercaya.

Alim juga meneliti uang dempo yang beredar pada era Agresi Militer Belanda II. Uang itu muncul sesaat dan beredar di kalangan tentara yang bertahan di Sumatera Selatan. Masa pencetakannya hanya berlangsung seminggu karena para tentara tidak sabar menunggu datangnya logistik dari pemerintah pusat. Uang tersebut dibelanjakan ke penduduk setempat, meski belum tentu bisa ditukarkan kembali saat agresi berakhir.

Menurut Alim, penelitian mengenai mata uang sangat penting dilakukan. Lewat mata uang, sejarah perkembangan suatu bangsa bisa terungkap. Dia pun menulis sebuah katalog mata uang Indonesia bersama seorang rekannya.

Saat ini, Alim menjadi penyumbang data untuk Standard Catalogue of World Paper Money dan Standard Catalogue of World Coins. Keduanya merupakan katalog uang kuno internasional. Alim juga menjadi member organisasi Numismatic International.

“Hambatan yang biasa kami hadapi adalah kebijakan pemerintah yang cenderung tertutup soal mata uang. Mau tidak mau, kami harus mencari sendiri informasi penting itu,” jelasnya.

Meski demikian, Alim menegaskan tidak akan menyerah. Dia akan terus meneliti mata uang di Indonesia. “Karena keterbatasan yang saya alami, saya belum mampu keliling Indonesia. Tapi, saya masih ingin berkarya,” tegasnya. (*/c5/ari)

Print Friendly
Install Aplikasi Posmetro Android di Gadgetmu
Android app on Google Play
Berita Terkait ""
Powered By Izulthea | Mulai online 03/02/2013 | Posmetro Batam tidak bertanggungjawab atas isi dari situs internet pihak luar