Posmetro Batam Edisi:
Oleh
Fokus Berita:

Janda Membang Lumban Gaol SP dan Anak Tunggalnya Tewas Di Rumah



Jenazah Membang Lumban Gaol SP dan Anaknya. Foto Metrosiantar

Jenazah Membang Lumban Gaol SP dan Anaknya. Foto Metrosiantar

SARIBUDOLOK- Warga Jalan Sipisopiso, Kelurahan Saribudolok, Kecamatan Silimakuta, mendadak heboh. Seorang janda bernama Membang Lumban Gaol SP (39) dan putri semata wayangnya, Emelia br Tarigan (11), ditemukan tewas bersimbah darah dalam rumahnya, Rabu (31/7) pagi.

Menurut tetangga korban, ST br Saragih (74), malam sebelum ditemukan tewas, ia mendengar ada suara tangisan sekira pukul 23.07 WIB. Perkiraan ST br Saragih, yang menangis itu adalah Emelia.
“Kebetulan rumah kami masih satu dinding, makanya suara itu aku kenali,” ujar ST br Saragih, istri almarhum AK Sipayung.

Dia mengaku sempat menanyakan dari sebelah rumah mengapa Emelia menangis. Namun suara tangis itu tak terdengar lama. Karena tak ada jawaban dari seberang rumah, ST Br Saragih pun tak menaruh curiga. “Lagi pula setelah ditanya mengapa menangis, suara Emelia perlahan tak terdengar,” katanya.

Setelah itu, ia mengaku masuk ke kamar melanjutkan tidurnya. Berselang empat jam kemudian, ST br Saragih kembali terjaga. Dia kembali mendengar suara ribut dari rumah korban, pagi  itu sekira pukul 04.00 WIB. Namun, kata ST br Saragih, keributan itu tidak berlangsung lama. Bahkan hingga matahari terbit, dia mengaku tidak ada lagi mendengar suara ribut-ribut. “Rupanya inilah yang terjadi,” kata tetangga korban sambil menghela nafas.

Sementara Marsianus Saragih (48), calon suami korban adalah orang yang pertama kali melihat jenazah kedua korban mengaku sengaja datang ke rumah korban untuk mengambil pakaian anaknya, Rabu (31/7) pagi sekira pukul 07.30 WIB.

Pria yang sehari-hari bekerja di Kantor Camat Silimakuta ini menuturkan, sejak dia menjalin hubungan dengan korban, pakaian ketiga anaknya masing-masing, Marko Andriano Saragih (17), Marselino Saragih (10) dan Lujio Saragih (5), korban yang menyucikan.

Marsianus mengatakan, sebelum melihat tubuh korban tidak bernyawa, dia terlebih dulu menggedor pintu rumah korban. Namun beberapa kali digedor, pintu tak kunjung dibuka. “Di situ aku mulai curiga dan mencoba melihat ke dalam rumah dengan menyingkap gorden rumah korban,” kata Marsianus.

Setelah menyingsingkan kain gorden rumah korban, Marsianus sontak terkejut melihat Emelia br Tarigan, anak korban tidur di bawah beralaskan triplek. Di sekitar tubuh korban terdapat bercak darah. Seketika perasaan Marsianus berkecamuk. Merasa ada yang tidak beres, Marsianus kemudian memanggil para tetangga untuk membantu mendobrak pintu rumah korban.

Ditemani RT setempat marga Sipayung, Marsianus dan warga langsung mendobrak pintu rumah korban. Ternyata firasat Marsianus benar, Membang dan anaknya Emelia ditemukan tewas dengan kondisi mengenaskan. Kondisi kepala kedua korban berlumur darah.

Saat ditemukan, posisi tubuh Emelia berada di lantai, sementara Membang tewas di atas tempat tidur dengan posisi telentang dan ditutupi selimut. Melihat kedua korban tidak bernyawa, tidak seorang pun warga berani menyentuh tubuh korban. Termasuk Marsianus. Calon suami korban ini tampak syok melihat kekasihnya itu tewas bersimbah darah. Kemudian warga langsung melaporkan kejadian itu ke polisi.

Atas laporan warga, Kapolsek Saribu Dolok Kompol M Aruan bersama Kapolres Simalungun AKBP Andi Taufik bersama unit Rekrim terjun langsung ke tempat kejadian perkara (TKP). Setelah melakukan olah TKP, jenazah kedua korban dievakuasi ke Rumah Sakit GKPS Bethesda Saribudolok, sekitar 300 meter dari rumah korban.

Amatan METRO, suasana rumah korban dikerumuni ratusan warga setempat yang penasaran terhadap kasus pembunuhan itu. Bahkan saat jenazah korban dievakuasi ke rumah sakit, ratusan warga ikut mengantarnya.

Setelah jenazah kedua korban dibaringkan di rumah sakit, sejumlah rekan korban, Guru di SD dan SMP Yayasan Bunda Mulia Jalan Sutomo Nomor 16 Saribudolok, datang bersama ratusan siswa. Saat berada di rumah, para guru dan siswa menggelar doa bersama warga dan rekan-rekan korban lainnya.

Tidak sedikit kaum ibu yang meneteskan air mata melihat kondisi korban. Yang lain, sambil mengunyah daun sirih, berbincang-bincang soal kasus pembunuhan terhadap kedua korban.
Jenazah kedua korban sengaja disemayamkan di rumah sakit menunggu kedatangan orangtua korban Ir Sabam Lumban Gaol (67), yang tinggal di Simpang Limun, Medan.

Tak Ada Motif Perampokan
Kapolsek Saribu Dolok Kompol M Aruan kepada METRO menerangkan, dari hasil olah TKP tidak ditemukan adanya tanda-tanda motif perampokan. Sebab sewaktu korban ditemukan terbujur kaku di kamar, sejumlah perhiasan seperti cincin dan kalung beserta satu buah laptop korban masih utuh di lokasi kejadian.

Sementara alat yang digunakan pelaku untuk menghabisi nyawa korban, diduga keras menggunakan benda tajam dan benda tumpul. Dari hasil olah TKP yang mereka lakukan, sampai sekerang ini petugas polisi masih mencari tahu siapa pelaku yang tega membunuh ibu dan anak tersebut.

“Sekarang ini, kita sedang meminta keterangan dari calon suami korban serta tetangga dekat korban yang tinggal di sebelah rumah atau di samping lokasi kejadian,” kata kapolsek.

Dari hasil pemeriksaan awal, kejadian ini diduga dilakukan oleh warga sekitar yang sebelumnya sudah mengenal korban. Begitu pun pihak polisi masih akan terus menyelidiki motif pembunuhan ini. Sewaktu ditemukan, kedua korban sudah tidak bernyawa. Pihaknya kemudian membawa jenazah korban ke Rumah Sakit GKPS Bethesda Saribu Dolok.

Menurut keterangan Direktur Rumah Sakit GKPS  Bethesda dr Birma Saragih, luka yang dialami Emelia br Tarigan terdapat pada kepala bagian kiri dengan lebar 13 x 8 centimeter. Luka tersebut terdiri dari dua titik.

Sementara kondisi Membang br Lumban Gaol, juga kritis. Korban meninggal karena luka yang sama pada bagian kepala. Dia menyebutkan, terdapat lima titik luka. Selain itu, di dada Membang terdapat luka memar bekas diinjak pelaku. “Jenazah korban tiba di rumah sakit sekira pukul 10.00 WIB, diperkiraan kedua korban meninggal 6 sampai 8 jam sebelum tiba di rumah sakit ,” ujar dr Birma.

Korban Diotopsi di RS Adam Malik Medan
Ir Sabam Lumban Gaol, ayah korban yang datang dari Simpang Limun, Medan, tiba di Saribudolok sekira pukul 14.30 WIB. Dia menerangkan, korban adalah anak kedua dari tujuh bersaudara.

Enam saudara korban masing-masing Jandi Lumban Gaol tinggal di Batam, Masroh br Lumban Gaol, Hotna br Lumban Gaol, Anceh Lumban Gaol, Chris Lumban Gaol dan Marual Lumban Gaol, kelimanya tinggal di Kota Medan.

Setelah melihat kondisi anak dan cucunya, Sabam meminta kepada petugas polsek agar jenazah kedua korban dibawa ke Rumah Sakit Adam Malik Medan untuk diotopsi. Hal itu mengingat semua keluarganya beralamat di Medan.

Permintaan Sabam diaminkan kapolsek, dengan syarat membuat surat pernyataan dimana perjalanan dalam pemeriksaan dokter tetap dikawal petugas dari Polsek Saribu Dolok. “Awalnya, saya minta anak saya itu diformalin. Namun untuk mempermudah pemeriksaan hasil otopsi dokter, saya batalkan. Hari ini juga (waktu kejadian) saya akan membawa anak saya itu ke RS Adam Malik,” ujar orangtua korban, yang rambutnya sudah memutih.

Kapolres Simalungun AKBP Andi Taufik mengatakan, berhubung pelaku belum ditangkap, pihaknya belum bisa menjawab motif pembunuhan tersebut. Sementara ini, pihaknya masih terus menyelidiki identitas pelaku dari sejumlah alat bukti yang ditemukan di TKP yaitu sejumlah perhiasan dan harta benda milik korban.

“Kita belum bisa memastikan apa motif pembunuhan ini, apakah murni karena dendam atau pencurian. Sementara itu, jumlah pelaku pembunuhan juga belum bisa disimpulkan berapa orang. Yang pasti dari hasil keterangan saksi, pintu rumah dalam keadaan terkunci dari dalam, sementara jendela terbuka walau tidak ada bekas congkelan,” ujar Kapolres. 

Ada Orang Ketiga
Menurut cerita Marsianus Saragih, setelah mereka menjalin hubungan serius, ada seorang laki-laki bermarga Tarigan, mengaku dari Kalimantan, masuk dalam hubungan mereka. Marsianus bilang, marga Tarigan itu sering mengirimi kekasihnya SMS.

Sebagai pacar, kata Marsianus, dia sering menanyakan itu kepada Membang. Mulai dari menanyakan apa isi SMS hingga apa maksud SMS dari seseorang yang mengaku bermarga Tarigan itu, selalu ditanyai Marianus.

Sekali waktu, seseorang yang mengaku bermarga Tarigan itu mengaku mengenali almarhum suami Membang. “Aku sempat mengira kalau seseorang yang mengaku bermarga Tarigan itu hanya seorang teman biasa,” ujar Marsianus.

Namun dia tidak tinggal diam. Pelan-pelan dia menyelidiki siapa seseorang mengaku bermarga Tarigan itu. Hingga akhirnya dia tahu bahwa seseorang yang mengaku bermarga Tarigan itu ternyata seorang supir angkot di Saribudolok. “Dialah orang ketiga yang masuk dalam hubungan kami,” ujar Marsianus.

Setelah mengetahui ada orang ketiga yang ingin merusak hubungan mereka, Marsianus menganjurkan agar korban segera mengganti nomor handphone-nya. (sp/end/dro/metrosiantar)

Print Friendly
Berita Terkait ""
Powered By Izulthea | Mulai online 03/02/2013 | Posmetro Batam tidak bertanggungjawab atas isi dari situs internet pihak luar