Posmetro Batam Edisi:
Oleh

Lagi-lagi Masalah Lahan, Warga Tanjung Uma Demo ke BP dan Pemko



warga tanjunguma demo pemkoBATAM, METRO: Ribuan masyarakat Tanjung Uma berdemo di depan kantor Badan Pengusahaan (BP) Kawasan Batam, Senin (7/10). Aksi ini dilakukan untuk mendesak BP Batam, agar segera menyelesaikan status kampung tua di tempat tinggal mereka.

“Ambil keputusan cepat. Tak pake lame-lame lagi. Dari dulu dibicarakan-dibicarakan terus,” teriak salah satu pendemo yan mengaku bernama Nur.

Dalam aksi itu, Nur menutupi wajahnya dari sengatan matahari dengan kardus air mineral. “Saye sudah belasan tahun di sana (Tanjung Uma). Gara-gara dualisme pemerintahan nasib masyarakat tak jelas. Keluarga kami susah payeh becucuk tanam di sana, nggak sehari-dua hari tibe-tibe tanah kami nak diambil. Mereka tak tahu tata kelola pemerintahan ke, tak ada rakyat tak ade negare. Ubah dulu undang-undang untuk Batam nih. Supaya jangan ada dualisme pemerintahan. Cerita otonomi, tapi otonomi setengah hati,” ujarnya, kesal.

Sementara itu, orator yang berdiri di atas truk biru juga meminta agar BP Batam segera memberikan kejelasan atas status Kampung Tua Tanjung Uma. “108 hektar harga mati untuk Tanjung Uma sebagai kampung tua. Kami minta kejelasan status kampung tua yang sekarang diduduki PT Cahaya Dinamika Abadi. Ini penjarahan hak rakyat, memanfaatkan hak rakyat. Membohongi kami rakyat,” teriaknya.

Dalam orasinya, ia juga meminta agar BP Batam, menarik HPL PT tersebut. Melihat keadaan tersebut, pihak keamanan meminta perwakilan pendemo untuk bernegosiasi. Pertemuan pun akhirnya digelar hampir satu jam. Sementara, massa perwakilan menyampaikan kekecewaannya di hadapan rekan-rekan mereka yang menanti di luar.

“Tidak ada keputusan kawan-kawan. Kalau begitu kita tunggu sampai jam enam sore di sini. Jam lima sore dia (Mustofa) baru ada,” ujar Haji Raja Harun. Pria yang dituakan di kampungnya itu pun berusaha menenangkan emosi warga yang semakin memuncak karena tidak mendapatkan jawaban pasti. “Kita harus tetap tenang. Kita suarakan aspirasi kita, tanpa kekerasan. Kita akan meminta beliau (Mustofa) untuk memperjelas status kampung kita,” katanya.

Hingga kini, para pendemo yang telah lebih dulu mendatangi kantor Pemko Batam dan DPRD Batam memilih bertahan di depan kantor BP Batam. Pihak kepolisian bekerja sama dengan Ditpam BP Batam juga menjaga ketat pintu masuk gedung Bifza Marketing Centre, tempat pertemuan pendemo. Dalam pertemuan tersebut BP Batam  diwakili I Wayan dan Bambang serta Wakil Wali Kota Batam, Rudi dan Kabag Pertanahan.(ams)

Print Friendly
Install Aplikasi Posmetro Android di Gadgetmu
Android app on Google Play
Berita Terkait ""
Powered By Izulthea | Mulai online 03/02/2013 | Posmetro Batam tidak bertanggungjawab atas isi dari situs internet pihak luar