Posmetro Batam Edisi:
Oleh
Fokus Berita:

Suka Duka Nahkoda Ferri: Tiap Hari Tidur di Kapal, Ketemu Keluarga Dua Bulan Sekali

  • sumeks



nahkoda-KMP-sumeks7 tahun sudah NM Soleh Wahid menjalani profesi sebagai pelaut. Cuaca buruk, terjangan ombak dan gelombang tinggi sudah biasa baginya. Ia mengaku kalau profesi ini sesuai dengan cita-citanya.

M RIAN SAPUTRA – Palembang

Seorang pria berkulit sawo matang dibalut seragam putih biru tak henti-hentinya memutar kemudi KMP Kakap, salah satu kapal feri yang melayari rute pelayaran Pelabuhan Tanjung Api-Api (TAA)-Tanjung Kalian Muntok (Bangka).
Dia Soleh (49), pria kelahiran asli Palembang yang keluarganya banyak menetap di Baturaja. Sesekali ia beristirahat dan kendali kemudi diserahkan kepada awak kapal lain. Saat itu, kapal sedang menuju perairan Bangka.
“Ya, beginilah aktivitas kami sehari-hari sebagai orang yang bekerja di bidang pelayaran. Tiap hari bergaul dengan perairan,” ujarnya membuka pembicaraan. Soleh memang memilih menjadi nakhoda lantaran itu keinginannya sejak kecil.
Dia merasa, profesi sebagai pelaut merupakan jiwa asli dalam dirinya. “Saya sendiri tidak tahu kenapa. Tapi, semua sesuai arahan dari hati kecil saya,” katanya. Karena itulah, hijrah dari Palembang, ia melanjutkan studi di Sekolah Pelayaran Semarang demi mengejar impiannya itu.
Mendapatkan posisi sekarang bukan hal yang mudah. Soleh harus memulai kariernya dari nol. Dari seorang awak kapal biasa, terus dan terus bekerja hingga akhirnya mendapat kepercayaan memimpin pelayaran di perairan, sungai maupun laut.
Pria kelahiran Baturaja, OKU, 1 Januari 1974 ini, terbilang baru saja menikmati posisi menjadi nakhoda, baru beberapa tahun terakhir. Boleh dikata, kehidupannya sudah jauh lebih mapan.
Meski begitu, ada sesuatu hal yang mengganjal di hatinya. Mengikuti tuntutan kerja mengharuskan dirinya tidak memiliki banyak waktu untuk berkumpul dengan keluarga. Dalam hatinya, Soleh ingin sekali bisa tiap hari bersama buah hati dan istri tercintanya.
“Apa boleh buat. Saya harus selalu berada di laut karena ini memang sudah menjadi risiko pekerjaan atas dasar pilihan hati. Meski sedih, tapi saya harus bekerja secara profesional,” tegas ayah tiga orang anak ini.
Ia hanya punya waktu sekali dalam sebulan untuk bisa ketemu keluarganya di Baturaja. Bahkan, sejak pelabuhan pindah ke TAA, waktu bertemu jadi makin susah, bisa dua bulan sekali.
“Kondisi inilah yang terus mengganjal di hati,” bebernya.
Kata Soleh, anak-anaknya tak jarang protes dan meneleponnya, menanyakan kapan dia akan pulang ke rumah. Sejak pelabuhan feri pindah ke TAA, suami Lili Efrita ini mengaku susah mencari tempat menginap yang layak.
Bersama para awak kapal, dia memanfaatkan kapal untuk menjadi tempat tidur dan beristirahat. Posisi TAA yang jauh dari pusat kota salah satu penyebabnya. “Beda kalau pelabuhan masih di 35 Ilir. Karena tidak terlalu jauh dari kota, mudah cari tempat menginap,” tutur Soleh.
Di balik semua duka itu, Soleh masih bersyukur. Setidaknya, keluarganya mendukung kariernya. Mereka punya kebanggaan terhadap sosok ayahnya yang seorang nakhoda kapal. “Doa mereka semua membuat saya kuat,” tukasnya. (*/ce4/ndy)

Print Friendly
Berita Terkait ""
Powered By Izulthea | Mulai online 03/02/2013 | Posmetro Batam tidak bertanggungjawab atas isi dari situs internet pihak luar